This content is not yet available in the selected language. Showing the Indonesian version.
Penjaga Al-Qur'an dan Hadis di Ruang Akademik

Kabar Duka di Hari Minggu
Minggu, 18 Oktober 2026, kampus kita kehilangan salah satu penjaganya. Prof. Dr. Hj. Nihayatul Masykuroh, M.S.I., Guru Besar UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten dan Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) periode 2015–2025, berpulang ke rahmatullah. Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji'ūn.
Atas nama keluarga besar Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam (FUSPI), saya menyampaikan duka cita yang mendalam kepada keluarga yang ditinggalkan. Duka ini bukan milik FEBI semata, melainkan milik seluruh sivitas akademika UIN SMH Banten.
Catatan ini bukan obituari yang lengkap. Ini kesaksian seorang kolega yang mengenal beliau cukup lama, dan yang masih menyimpan percakapan terakhir dengannya.
*Bermula dari Rumah yang Sama*
Saya mengenal beliau sejak masa Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah. Fakultas itu dulu menjadi rumah bersama bagi banyak disiplin keislaman: aqidah, filsafat, tafsir, hadis, bahasa, sastra, hingga dakwah. Di rumah itulah kami belajar bahwa ilmu-ilmu keislaman saling menyapa, tidak berdiri sendiri-sendiri.
Waktu kemudian membawa kampus ini untuk tumbuh. Lembaga berubah bentuk, fakultas dimekarkan, dan jalan kami bercabang. Beliau memimpin FEBI selama satu dasawarsa, sementara saya kini dititipi amanah di FUSPI.
Namun, akar yang sama tidak pernah tercabut. Setiap kali bertemu, pembicaraan kami kerap kembali ke soal yang sama: ilmu dan untuk apa ilmu itu dijaga.
*Penjaga Mata Air, Bukan Penjaga Museum*
Bagi saya, Prof. Nihayatul Masykuroh adalah penjaga Al-Qur'an dan Hadis di ranah akademik. Sebutan ini sengaja saya pilih, justru karena beliau memimpin Fakultas Ekonomi dan Bisnis, bukan Fakultas Tafsir atau Hadis.
Sikap penjaga itu tidak lahir di ruang hampa. Beliau adalah dzuriyah Pondok Pesantren Cibeber, Cilegon, yang didirikan oleh KH. Abdul Latief pada 1924 dan dikenal melalui Madrasah dan Pesantren Putri Al-Jauharotunnaqiyyah. Beliau puteri pasangan Prof. Dr. H.M. Junus Gozali dan Nyi Hj. Mamduchah. Dari jalur ibunda, nasabnya bersambung kepada Nyi Hj. Madichah (1922–1996), puteri KH. Abdul Latief. Ayahanda beliau pun turut merawat ingatan pesantren itu dengan menulis Dalam Lintasan Sejarah KH. Abdul Latief.
Nyi Hj. Madichah adalah ulama perempuan yang mengajar santri putri, membina majelis taklim, dan aktif di Muslimat NU. Kiprahnya tercatat dalam buku Ulama Perempuan Banten: Dari Mekah, Pesantren, dan Majelis Taklim untuk Islam Nusantara (2017) yang saya sunting bersama Umdatul Hasanah. Bab tentang Nyi Hj. Madichah dalam buku itu ditulis sendiri oleh Prof. Nihayatul. Seorang cucu menuliskan sejarah neneknya: itu pun salah satu cara menjaga warisan.
Ada dua cara untuk menjaga sebuah warisan. Penjaga museum memastikan pusaka tetap utuh di balik kaca, tak tersentuh dan tidak digunakan. Penjaga mata air memastikan airnya tetap jernih, lalu mengalirkannya ke ladang-ladang yang membutuhkan.
Beliau penjaga jenis kedua. Ekonomi Islam yang beliau rawat bukan keuangan biasa yang diberi label syariah. Ia berpijak pada Al-Qur'an dan Hadis, dan karena itu harus menjawab pertanyaan tentang keadilan, amanah, dan kemaslahatan, bukan hanya soal laba.
Menjaga ruang akademik juga berarti menolak dua godaan sekaligus. Godaan pertama adalah memperlakukan teks suci sebagai hiasan, dikutip di pembuka makalah, lalu ditinggalkan. Godaan kedua adalah membekukannya, seolah teks tidak boleh dibaca ulang dengan metode dan pertanyaan zaman ini.
Di antara dua godaan itu, seorang akademisi muslim berdiri dengan tanggung jawab ganda: setia pada sumber, jujur pada metode.
Di situlah, menurut saya, letak keteladanan beliau.
Percakapan Terakhir di Gedung Pusgiwa
Pertemuan terakhir kami terjadi di hari yang membahagiakan: pernikahan puteri pertama beliau di Gedung Pusgiwa UIN SMH Banten. Di tengah suasana pesta, di sela ucapan selamat dan doa para tamu, kami masih sempat mendiskusikan makna kehidupan akademik ini.
Kata "masih" itu yang terus saya ingat. Pada hari ketika seorang ibu mengantar puterinya memasuki babak hidup baru, pikirannya tetap menyisakan ruang untuk kampus dan ilmu.
Saya kini membaca percakapan itu sebagai pesan. Kehidupan akademik bukan deretan jabatan, pangkat, atau gelar guru besar; semua itu hanya titian.
Maknanya terletak pada amanah: mengajar dengan sungguh-sungguh, meneliti dengan jujur, dan mewariskan ilmu kepada generasi berikutnya.
Ada kesejajaran yang indah pada hari itu. Seorang ibu mengantar anaknya ke kehidupan baru, sebagaimana seorang guru mengantar murid-muridnya ke medan ilmu yang lebih luas. Keduanya adalah kerja merawat kelanjutan.
*Amanah yang Kini Berpindah Tangan*
Kepergian beliau meninggalkan pekerjaan rumah bagi kita semua. Bagi FUSPI, yang kini mengelola Prodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir serta Prodi Ilmu Hadis, keteladanan itu terasa seperti amanah langsung.
Motto FUSPI, Critically, Locally, Globally, menuntut sikap yang sama dengan yang beliau teladankan: kritis tanpa kehilangan pegangan. Kepada para dosen dan mahasiswa, saya berpesan: jangan jadikan teks sebagai hiasan dan jangan jadikan metode sebagai alasan untuk menjauh dari sumber.
أَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لَهَا وَارْحَمْهَا وَعَافِهَا وَاعْفُ عَنْهَا
Semoga almarhumah husnul khatimah, mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT, dan seluruh amal ibadahnya diterima. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberi kesabaran dan ketabahan.
Selamat jalan, Prof. Nihayatul. Mata air yang Ibu jaga akan terus kami alirkan.








