This content is not yet available in the selected language. Showing the Indonesian version.
Dari Ziarah Sultan dan Mu'assis Menuju Kampus Berdampak

Berangkat dari Pusara
Pagi 1 Oktober 2026, sivitas akademika UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten tidak memulai Dies Natalis ke-64 dengan panggung, spanduk, atau seremoni gegap gempita. Kami memulainya dengan duduk bersila di lantai berkarpet hijau, berpeci hitam, menundukkan kepala di kompleks makam Sultan Maulana Hasanuddin di Banten Lama.
Setelah itu, rombongan dibagi ke empat arah: pusara Prof. Dr. H. M.A. Tihami, M.A., Prof. Dr. H. Fauzul Iman, M.A., Prof. K.H. Syadzly Hasan, dan Prof. K.H. Wahab Afif, M.A. Pimpinan, guru besar, dosen, hingga tenaga kependidikan berjalan bersama, tanpa sekat jabatan, di bawah rimbun kamboja yang sedang berbunga.
Bagi sebagian orang, ziarah mungkin tampak seperti ritual tahunan yang biasa-biasa saja. Bagi saya, justru di situlah Dies Natalis ini menemukan maknanya: sebuah kampus yang ingin berdampak ke depan harus lebih dulu tahu dari mana ia berangkat.
Ziarah sebagai Sanad Kelembagaan
Dalam tradisi keilmuan Islam, ilmu tidak berdiri di ruang hampa. Ia bersambung melalui sanad, mata rantai guru dan murid yang menjaga otentisitas sekaligus adab. Ziarah Dies Natalis adalah cara kampus membaca sanadnya sendiri.
Sultan Maulana Hasanuddin, yang namanya kita sandang, adalah peletak dasar Kesultanan Banten: pusat kekuasaan, perdagangan, dan pengajaran Islam yang terbuka bagi dunia. Banten pernah menjadi simpul jaringan ulama Nusantara dengan Haramain. Menyandang nama beliau berarti memikul amanah yang sama: menjadikan ilmu sebagai jalan pemakmuran, bukan sekadar gelar.
Para mu'assis yang kami ziarahi merupakan mata rantai berikutnya. Mereka adalah ulama sekaligus akademisi yang membesarkan kampus ini dari fakultas cabang di Serang menjadi IAIN, lalu menjadi UIN. Mereka mewariskan dua hal sekaligus: kedalaman tradisi pesantren dan keberanian untuk membuka diri terhadap metodologi ilmiah modern.
Ziarah, dengan demikian, bukan nostalgia. Ia adalah muhasabah kelembagaan: apakah kita masih setia pada cita-cita para pendiri, atau sekadar menikmati bangunan yang telah mereka dirikan?
Sebulan Penuh Menebar Dampak
Dari ziarah, rangkaian Dies Natalis berlangsung sepanjang Oktober hingga 31 Oktober 2026. Susunannya menarik untuk dicermati karena memperlihatkan wajah kampus yang akan dibangun.
Ada agenda akademik yang menegaskan jati diri keilmuan: Saresehan Akademik Pendidikan se-Banten (8 Oktober), Lokakarya Pemahaman Kerukunan Umat Beragama (12 Oktober), Pengukuhan Guru Besar (15 Oktober), dan Orasi Ilmiah (20 Oktober). Ada pula agenda yang menjangkau masyarakat: Eksebisi Olahraga, Akademik, dan Sains bagi siswa SMA/MA/pondok pesantren se-Provinsi Banten (5–16 Oktober), serta Cek Kesehatan dan Pengobatan Gratis (12–15 Oktober).
Napas kepesantrenan tetap terjaga melalui Upacara Hari Santri, santunan anak yatim dan duafa, istighosah, serta lomba tumpeng (22 Oktober). Kebersamaan warga kampus dirayakan melalui Lomba Pop Solo dan Fun Walk (24 Oktober).
Perpaduan ini bukan kebetulan. Dampak kampus tidak cukup diukur dari jumlah publikasi dan akreditasi. Ia juga diukur dari seberapa jauh kehadirannya dirasakan: oleh pelajar yang mulai bermimpi kuliah, oleh warga yang mendapat layanan kesehatan, oleh umat yang merasakan kedamaian dan kerukunan.
Kado Usia 64: Lahirnya FUSPI
Dies Natalis tahun ini terasa istimewa karena kampus tidak hanya bertambah usia, tetapi juga bertambah “anak”. Berdasarkan PMA Nomor 8 Tahun 2026 tentang Organisasi dan Tata Kerja UIN SMH Banten, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam (FUSPI) resmi berdiri pada 1 Juli 2026. FUSPI kini mengelola tiga program studi: Aqidah dan Filsafat Islam, Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, serta Ilmu Hadis.
Kelahiran FUSPI merupakan penegasan bahwa ilmu-ilmu dasar keislaman tidak boleh tersisih dalam arus pragmatisme di pendidikan tinggi. Ketika banyak kampus berlomba membuka prodi yang dianggap “laku”, UIN SMH Banten justru memberi rumah tersendiri bagi akidah, filsafat, tafsir, dan hadis. Di sinilah fondasi cara berpikir umat dirawat.
Visi FUSPI adalah menjadi fakultas yang unggul dalam pengembangan keilmuan dan pemikiran Islam berbasis kearifan lokal yang berdampak global. Mottonya ringkas: Critically, Locally, Globally. Kritis dalam bernalar, berakar pada khazanah Banten, dan bersuara dalam percakapan dunia.
Visi itu langsung bersambung dengan ziarah tadi. Banten memiliki warisan pemikiran yang kaya, dari tradisi ulama Kesultanan hingga Syekh Nawawi al-Bantani yang karyanya dibaca di berbagai belahan dunia. FUSPI ingin menghidupkan sanad itu, bukan sebagai museum, melainkan sebagai sumber gagasan untuk menjawab persoalan-persoalan hari ini: intoleransi, krisis makna di era digital, hingga etika kecerdasan buatan.
Menyalakan Dampak, Menginspirasi Perubahan
Tema Dies Natalis ke-64, Ignite Impact, Inspire Change, adalah janji yang harus ditepati. Status “Unggul” dan pengelolaan BLU adalah modal, bukan garis akhir. Pertanyaannya kini: dampak apa yang akan kita nyalakan, dan perubahan apa yang akan kita ilhami?
Saya melihat setidaknya tiga pekerjaan rumah. Pertama, riset harus turun ke persoalan nyata di Banten: kemiskinan, mutu pendidikan di madrasah dan pesantren, serta kerukunan di tengah masyarakat yang semakin majemuk. Kedua, keilmuan Islam harus hadir di ruang publik digital dengan bahasa yang jernih dan menyejukkan. Ketiga, kampus harus menjaga adab ilmiah: kejujuran akademik, keteladanan dosen, dan penghormatan kepada guru, sebagaimana yang kami ingat setiap pagi di pusara itu.
Usia 64 tahun adalah usia kematangan. Akarnya telah menghunjam dalam-dalam ke tanah Banten; kini saatnya dahannya menjulang dan buahnya dinikmati oleh banyak orang. Dari ziarah kepada Sultan dan para mu'assis, kita belajar bahwa kebesaran tidak diwariskan begitu saja. Ia dirawat, diperjuangkan, dan diteruskan.
Selamat Dies Natalis ke-64, UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten. Tetap unggul, terus menebar keilmuan Islam, dan semoga semakin berdampak bagi umat, bangsa, dan dunia.
Activity Photos
Comments0 comments
No comments yet.










